Masjid Ramlie Musofa menyediakan makanan buat buka puasa

Selama bulan Ramadhan Masjid Ramlie Musofa menyiapkan menu makan buat berbuka puasa. Pada hari libur jumlah pengunjung yang datang lebih banyak dari hari biasa. Pengalaman saya buka puasa di masjid ini adalah jika sudah pukul 5 sore maka sudah mulai orang berdatangan parkir kendarannya dan memasuki area masjid. Pukul 5. 20 sore makanan mulai dibagikan ke pengunjung yang ada di masjid. Satu persatu pengunjung mulai antri dengan tertib dan menerima satu paket makanan buat berbuka puasa. Saat membagikan makanan petugas meminta pengunjung supaya tidak makan di dalam masjid demi menjaga kebersihan buat beribadah

Masjid Ramlie Musofa didirikan oleh warga keturunan Tionghoa asal Aceh yang merantau ke Jakarta. Nama pendirinya adalah Haji Ramli Rasidin. Sejak menjadi muallaf, Haji Ramli bermimpi suatu saat akan membangun masjid dengan perpaduan unsur Arab, Indonesia dan China. Nama“Musofa” sendiri adalah gabungan nama dari ketiga anaknya yaitu Muhammad, Sofian, Fabian. Lokasi masjid ini terletak di Jl. Danau Sunter Selatan blok I 10 no.12C Sunter Jakarta Utara

 

   

Konsep masjid ini didesain mirip seperti Taj Mahal karena Haji Ramlie ingin masjid ini tetap abadi seperti Taj Mahal dan dipenuhi jamaah sepanjang masa.Suasana di sekitar masjid dipenuhi dengan banyak ukiran dari Bahasa Mandarin, Indonesia dan Arab. Di tempat wudhunya pula terdapat ukiran dinding tentang tatacara mengambil wudhu dengan benar.Tujuan utama didirikan masjid ini tentu untuk beribadah, yang kedua untuk membimbing mualaf-mualaf yang baru masuk Islam. Lalu yang ketiga ya Insya Allah sebagai tujuan wisata religi. Masjid ini juga dilengkapi dengan lift untukmemudahkan para penyandang disabilitas melaksanakan ibadahnya dengan aman.

Masjid Ramlie Musofa diresmikan pada bulan Mei 2016 oleh Imam besar Masjid Istiqlal Prof Nasaruddin Umar dan Haji Ramli. Sedangkan arsitek dan kontraktor dikerjakan oleh Julius Danu yang non-Muslim. Julius Danu merupakan rekanan dan  yang merancang kediaman haji Ramli. Setelah menaiki tangga masjid yang disamping kanan dan kirinya terdapat ukiran surah Al-Fatehah dengan tiga bahasa yaitu Arab, Indonesia dan Mandarin, dilantai 2 pojok kanan terlihat bedug berukuran cukup besar yang dipukul setiap sebelum adzan. Ada satu hal membuat masjid ini berbeda yaitu saat adzan dikumandangkan tidak menggunakan pengeras suara dikarenakan sudah menjadi kesepakatan bersama warga setempat yang mayoritas non muslim sebelum masjid didirikan.

     

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *